Art and Design Development, Innovation in Design, Marketing to Artwork, Graphic Design, Architecture & Interior Design, Product Design, Art Exhibitions, The intricacies of the Art, Tips on buying art, Lukisan Abstrak/abstracts painting, Ekspresionisme/Expressionism, Artwork for Hotel/Apartement/Office,History of Art.
Sunday, November 10, 2013
Thursday, November 7, 2013
ASIA AWARDS
One of the two main contents represented by the "School Exhibition" & the "Young Creator Exhibition" have showcased so far more than 6,000 teams of students and young designers from both inside and outside Japan. This year, a comprehensive Asian creative award has been established to gather all the young creative power from Asia and around the world in the centre of Tokyo. It aims to become a platform for students and young designers to help them develop their capabilities to excel on the global stage. An international design & art award aimed to foster and dispatch young energetic talented designers from Asia and around the world.
【ASIA AWARDS Award content】
THE YOUNG ASIA (U-30)・THE SCHOOL OF ASIA・THE STUDENT OF ASIA Grand Prix 100,000JPY each
THE YOUNG ASIA (U-30)・THE SCHOOL OF ASIA・THE STUDENT OF ASIA Grand Prix 100,000JPY each
Semi Grand Prix Young Creator Exhibition 2 participants School Exhibition 2 School Student Exhibition 2 participants
Corporate Awards
Purpose
To foster young talented designers, the future of the creative industries.
To gather all the young creative power from Asia and around the world in the centre of Tokyo.
Cultural Exchange
To build domestic and international connections through art and design.
Representative
Katsumi Asaba
Art Director
Toyo Ito
Architect
ASIA AWARDS Special Jury Members
■Executive Chairman
Kenji Kawasaki Founder of Tokyo Designers Week Design Association
■Vice Chairman
Toshiyuki Kita Product Designer
Vice Chairman
Hiroo Mori Mori Building Co. Executive Vice President
Vice Chairman
Shigeru Sato Able&Partners Inc. Chairman
■ Media Jury:Yoshiko Ikoma Fashion Journalist/Teiya Iwabuchi Chief editor of BIJUTSUTECHO/Kazuya Shimokawa Chief editor of Nikkei Business Publications/Touru Matsubara Chief editor of Casa BRUTAS/Izumi Miyaji Yomiuri Shimbun,Lifestyle and Culture section, Manager
■Director:Mika Ikenobo Flower artist/Yoichiro Ushioda LIXIL Corporation, Executive Chairman/Kimitaka Kato FUJITSU LIMITED SVP Marketing Transformation Project Office Marketing Business Unit/Maiko Kawakami Actress,Glass artist/Motomi Kawakami designer/Kengo Kuma Architect / Takeshi Kobayshi Music Producer/Kundo Koyama Screenwriter/Kashiwa Sato Art Director/Satoshi Tabuchi Professor,Tama Art University,Architect/ Hiroshi Tsuruta Real Style President/Koichi Nezu Nezu Museum, Director /Katsuhiko Hibino Artist/Ken Mogi Brain Scientist
■Supporting Embassies
Embassy of Bangladesh in Japan / Embassy of Brunei Darussalam in Japan/Embassy of the People's Republic of China in Japan/Embassy of India in Japan / Embassy of the Republic of Indonesia in Tokyo / Embassy of Israel in Japan / Korean Embassy in Japan, Korean Cultural Center / Korea Trade-Investment Promotion Agency / Embassy of Nepal in Japan / Embassy of the Republic of Philippines / Taipei Economic and Cultural Representative Office, Japan / Royal Thai Embassy / Embassy of the Democratic Republic of Timor-Leste / Turkish Embassy in Tokyo / Embassy of the United Arab Emirates, Tokyo / Embassy of the Socialist Republic of Vietnam in Japan
Kenji Kawasaki Founder of Tokyo Designers Week Design Association
■Vice Chairman
Toshiyuki Kita Product Designer
Vice Chairman
Hiroo Mori Mori Building Co. Executive Vice President
Vice Chairman
Shigeru Sato Able&Partners Inc. Chairman
■ Media Jury:Yoshiko Ikoma Fashion Journalist/Teiya Iwabuchi Chief editor of BIJUTSUTECHO/Kazuya Shimokawa Chief editor of Nikkei Business Publications/Touru Matsubara Chief editor of Casa BRUTAS/Izumi Miyaji Yomiuri Shimbun,Lifestyle and Culture section, Manager
■Director:Mika Ikenobo Flower artist/Yoichiro Ushioda LIXIL Corporation, Executive Chairman/Kimitaka Kato FUJITSU LIMITED SVP Marketing Transformation Project Office Marketing Business Unit/Maiko Kawakami Actress,Glass artist/Motomi Kawakami designer/Kengo Kuma Architect / Takeshi Kobayshi Music Producer/Kundo Koyama Screenwriter/Kashiwa Sato Art Director/Satoshi Tabuchi Professor,Tama Art University,Architect/ Hiroshi Tsuruta Real Style President/Koichi Nezu Nezu Museum, Director /Katsuhiko Hibino Artist/Ken Mogi Brain Scientist
■Supporting Embassies
Embassy of Bangladesh in Japan / Embassy of Brunei Darussalam in Japan/Embassy of the People's Republic of China in Japan/Embassy of India in Japan / Embassy of the Republic of Indonesia in Tokyo / Embassy of Israel in Japan / Korean Embassy in Japan, Korean Cultural Center / Korea Trade-Investment Promotion Agency / Embassy of Nepal in Japan / Embassy of the Republic of Philippines / Taipei Economic and Cultural Representative Office, Japan / Royal Thai Embassy / Embassy of the Democratic Republic of Timor-Leste / Turkish Embassy in Tokyo / Embassy of the United Arab Emirates, Tokyo / Embassy of the Socialist Republic of Vietnam in Japan
Corporate Partners
INTER PLANETS Inc./ WOODONE CO.,LTD. /ABLE Inc./ SIMMONS CO.,LTD./SHIMIZU CORPORATION/SPACE CO., LTD./Sogo & Seibu Co., Ltd/ CHINTAI Corporation/TOKYO GAS CO., LTD./TOTO LTD./TOYO INK CO., LTD./MISAWA HOMES CO., LTD./Mitsui Fudosan Residential Co.,Ltd./ISETAN MITSUKOSHI HOLDINGS/Mori Building Co., Ltd./Real Style CO., LTD.
Tuesday, October 29, 2013
LUKISAN ABSTRAK VANESSA
Seperti halnya Seni , Vanessa Aves adalah seorang wanita kompleksitas yang mendalam .
Salah satu prestasi yang menonjol sampai saat ini adalah tulisan dalam otobiografinya yang
berjudul " Pendulum " yang mengungkapkan karya seni yang beragam yang menggali hidupnya- baik sebagai seorang seniman , dan seseorang yang berusaha sepenuhnya untuk hidup produktif dan bahagia setiap hari serta berjuang melawan depresi.
Lukisan kontemporer Amerika Vanessa mengeksplorasi unsur-unsur warna dan gerakan . Dengan menuangkan tinta yang berbeda ke lembaran plastik kertas , memanipulasi dengan cat air dan menyemprotkan air di atasnya untuk menciptakan genangan air , Vanessa mampu menciptakan tampilan yang sangat berbeda untuk karya seninya .
Memperhatikan kejadian dan hal-hal kecil dalam hidup saya adalah merupakan pengalaman yang menyenangkan dan membebaskan.
Saya selalu merasa terkesan dan takjub atas apa-apa yang saya temukan dalam kehidupan sehari-hari.
Mungkin bagi Artis lain merupakan suatu usaha yang melelahkan untuk bisa menemukan suatu kondisi yang bisa menyentuh perasaan yang mendalam yang menyentuh jiwa.
Under the Sea segera menarik perhatian saya. Berbaurnya berbagai warna antara satu dengan lainnya di kolam dan formasi bergelembung menciptakan suatu kedalaman. Sepertinya ada semacam tekanan atau tenaga besar yang mampu menghancurkan.
Under the Sea
Dalam lukisan ini , hitam adalah warna yang menonjol, dan aku amat menyukainya .
Vanessa selalu menambahkan unsur gelap yang bertentangan dengan warna cerah dan percikan warna cerah tersebut membuat bidang gambar tampak lebih nyata. Hal ini mengingatkan saya bahwa didalam kegelapan , kita dapat menemukan keindahan dan cahaya yang membuat kita berpikir dan merasakan sesuatu yang baru. .
Dengan layering warna berbeda satu sama lain , menciptakan nuansa terbatas , seolah-olah kita bisa mempelajari kedalaman air dan berenang selamanya , seolah-olah menemukan bentuk kehidupan yang silih berganti.
http://www.shawnmcnulty.com/
Monday, October 28, 2013
Monday, October 21, 2013
SENI GAMBAR KONTEMPORER INDONESIA
SENI GAMBAR KONTEMPORER INDONESIA: Gambar dalam Perjalanan Sejarah Seni Rupa Barat
Oleh: ASMUDJO J. IRIANTO
BERNETT Newman, salah satu seniman papan atas Amerika, pernah berujar manusia yang pertama menjadi seniman adalah pada saat dia menorehkan sebuah garis di atas permukaan tanah menggunakan sebilah kayu. Torehan garis tersebut bisa dianggap sebagai gambar pertama. Gambar tampaknya selalu menyertai perjalanan peradaban dan kebudayaan manusia. Karena itu, tak mengherankan jika gambar menjadi wilayah sangat penting dan tak dapat dipisahkan dari dunia seni dan seniman. Sebetulnya “menggambar”, seperti corat-coret, membuat sketsa, membuat bagan dan sebagainya merupakan salah satu cara seniman (dan para perancang) dalam menvisualisasikan gagasan yang ada dalam kepalanya. Karena itu menggambar sesungguhnya juga merupakan upaya pengkongkretan imajinasi, gagasan seniman. Tentu saja setiap bentuk karya seni sesugguhnya merupakan bentuk pengkongkretan gagasan sang seniman, namun gambar menduduki posisi istimewa sebab dalam prosesnya merupakan visualisasi konkret yang paling awal, spontan dan langsung. Hal itu diutarakan dengan gamblang oleh G. Sidharta Soegijo: “Salah satu cara yang paling langsung untuk menghubungkan proses berpikir, yang berlangsung secara abstrak, dengan bentuk visual, yang konkret, adalah melalui gambar.”
Dalam nada yang sama, Kate
Macfarlane dan Katharina Stout berujar: “It is to drawing that many artists
turn when they are not sure how to proceed with a particular line of enquiry,
or how to realise an ambitious proposal. As Avis Newman suggests, drawing
offers the most direct access to the intimate workings of the artist’s mind: ‘I
have always understood drawing to be, in essence, the materialisation of a
continually mutable process, the movements, rhythms, and partially comprehended
ruminations of the mind: the operations of thought. For this reason alone,
drawing will always be at the heart of the visual arts‘.”
Gambar menjadi bagian penting dalam
perjalanan seni rupa Barat sejak masa Renesans sampai pada masa modern. Akademi
seni di Eropa sejak abad 16 sampai abad 19 menekankan pentingnya gambar sebagai
tulang punggung seni lukis dan seni patung. Apa yang dikenal sebagai
akademisme, tak lain adalah formulasi dan pendekatan seni rupa yang menekankan
pentingnya kemampuan menggambar bagi seorang seniman. Hal itu bisa kita lihat
dari peninggalan gambar-gambar para pelukis-pelukis terkenal Eropa sejak masa
Renesans sampai era seni rupa modern. Karena itu, sungguh mengherankan bahwa
gambar—atau lebih tepat seni gambar—menjadi kategori seni yang otonom baru
beberapa tahun belakangan ini.
Agaknya, fungsi gambar sebagai
preparatory—kerja persiapan untuk menghasilkan lukisan—menjadikan gambar
tenggelam di bawah medium atau kategori seni yang disokongnya, yaitu seni
lukis, seni patung dan seni grafis. Menjadi perangkat preparatory
menjadikan gambar dibutuhkan, namun sekaligus diletakkan bukan sebagai tujuan
akhir. Kendati gambar, atau kemampuan menggambar merupakan hal penting dalam
seni lukis dan seni patung, namun hal itu lebih bertautan dengan proses
penyiapan dalam eksekusi lukisan. Tentu saja yang dianggap lebih penting adalah
hasil akhir atau tujuan akhir, yaitu lukisan atau patung. Tujuan akhir
merupakan supremasi, dan dalam tradisi fine art apa yang menjadi akhir adalah
yang utama, seperti dijelaskan oleh Mortimer J. Adler: “These are the arts
that later came to be called the fine arts, when the word ‘fine’ is understood
to mean ‘finis’ and to signify that the works produced by these arts were
things to be enjoyed for their own sake, not to be used as means to further
ends.”
Sejak masa Renesans ketrampilan
menggambar menjadi bagian penting dalam melukis. Sejak masa Renesans pula seni
lukis menjadi kategori seni tinggi (high art) yang otonom. Maka tak
mengherankan di era seni rupa modern, lukisan merupakan kategori seni yang
paling penting. Ironisnya supremasi seni lukis dicapai melalui dukugan yang tak
lekang dari gambar. Agaknya, karena terlalu lama menservis seni lukis dan
patung menyebabkan status atau kedudukan gambar menjadi problematik,
sebagaimana diutarakan oleh Emma Dexter, “Yet the medium’s status has always
been problematic, due to its servitude to the arts of painting and sculpture,
as well as its association with preparation and incompletion.”
Pelukis kenamaan Perancis Ingres
pernah berujar mengenai pentingnya gambar untuk painting, “If I were to put
a sign above my door, it would read School of Drawing, and I’m certain that I
would produce painters.” Hal itu tampaknya berlaku secara universal.
Bukankah hal itu pula yang telah dibuktikan oleh Balai Universitas Pendidikan
Guru Gambar (dibuka tahun 1947) yang menjadi cikal bakal seni rupa ITB?
Untuk menjadi kategori seni yang
otonom ternyata gambar masih membutuhkan perjalanan panjang. Seni rupa modern
yang lebih mementingkan konsep, semakin menempatkan gambar—sebagai proses
preparatory—semakin tidak penting. Dari masa Renesans sampai akhir abad 19
virtuositas menggambar sepertinya menjadi keharusan bagi seniman agar dapat menghasilkan
karya lukis dan patung yang berkualitas. Sebaliknya seniman modern justru
mencurigai hal-hal yang berkait dengan aspek ketrampilan, termasuk ketrampilan
menggambar. Deanna Petherbridge, seorang prefesor dalam bidang gambar
menjelaskan situasi diametrikal antara masa klasik dengan kepercayaan pada
pendekatan akademik melawan masa modern yang mendestruksi pendekatan akademik,
“The practice of art in this century has been no less closely tied to
education than it has in other times. Eighteenth-century neoclassicism, for
example, is as closely allied with the spread of the academies. As modernism
has been with the destruction of the academic system. The academy, as we all
know, was posited on the teaching of life gambar, in fact learning art in the
West since Renaissance has been entirely to do with question of disegno—as both
drawing and composisitional design.”
Maka tak mengherankan jika bagi para
seniman modernis, gambar, khususnya dalam pendekatan akademis menjadi wilayah
yang tidak penting. Tentu saja seniman modern tetap membutuhkan visualisasi
bagi gagasan dan pemikirannya, namun hal tersebut tak harus diterapkan melalui
ketrampilan gambar yang canggih. Gambar atau sketsa yang dihasilkan oleh para
seniman modern, konseptual dan avant garde tidak menunjukkan virtuositas gambar
seperti para seniman di abad-abad sebelumnya. Formalisme dan pencarian esensi
seni lukis telah menggeser pentingnya gambar sebagai proses preparatory
untuk melukis. Karena itu segi ketrampilan menggambar ala akademisme (kemampuan
gambar anatomis) makin hilang dan tidak penting di masa-masa seni rupa modern
dan era neo avant-garde, yaitu masa-masa transisi dari seni rupa modern
menuju seni rupa kontemporer.
Demikian pula, di masa-masa tersebut
akademi seni rupa di Barat memandang pembekalan ketrampilan, termasuk gambar
semakin tidak relevan, dan mengurangi secara drastis mata kuliah menggambar.
Hal yang dikenal dengan sebutan de-skilling ini berkaitan (catatan dari
subject of art) dengan arahan dan prioritas utama pada segi konsep. Proses
menuju de-skilling ini agaknya sesuai dengan paradigma seni rupa modern, dan
dalam beberapa hal kemudian juga ditunjukkan oleh seni rupa
kontemporer—khususnya dalam karya-karya yang bersifat transgresif. Kendati
kemudian juga terbukti bahwa seni rupa kontemporer menunjukkan pula karakter
yang berlawanan dengan kecenderungan de-skilling, yaitu munculnya
kembali (revival) kebutuhan terhadap skill atau ketrampilan.
Gambar Sebagai Wilayah Otonom dalam
Seni Rupa Kontemporer
Setelah di akhir tahun 60-an sampai
tahun 80-an gambar dianggap kurang penting dalam ruang lingkup pendidikan seni
rupa, maka tahun 90-an ditandai dengan kegelisahan karena makin berkurangnya
kemampuan menggambar para mahasiswa seni rupa. Ada upaya-upaya untuk “back
to basic”, yaitu mengembalikan gambar sebagai variabel penting dalam seni
rupa—termasuk dalam pendidikan tinggi seni rupa. Hal itu misalnya ditunjukkan
oleh sebuah konferensi yang diadakan oleh Tate Gallery tahun 1993-1994 mengenai
The role of drawing in Fine Art Education. Hal itu kemudian ditandai
pula oleh dibukanya program studi gambar di beberapa perguruan tinggi seni rupa
di Barat.
Di masa sebelumnya, kita tahu bahwa
seni lukis modern yang puncaknya ditunjukkan oleh abstrak ekspresionisme
mengalami kebuntuan. Perkembangan lebih lanjut yang ditunjukkan oleh Pop
Art, Conceptual Art dan Minimal Art merupakan masa transisi dari seni rupa
modern menunju seni rupa kontemporer. Penentangan pada konteks spiritual
kesenimanan dan sublimasi seni lukis menyebabkan seni lukis pada awal tahun
70-an mendapatkan stigma, dan untuk beberapa saat mengalami titik nadir. Performance,
happening, eart art, dan bentuk-bentuk seni patung dalam sense sculpture
in extended field menjadi utama. Hal itu kemudian disusul oleh new media
art. Namun secara perlahan tapi pasti seni lukis kembali menunjukkan
kebangkitannya. Berbeda dengan masa seni lukis modern, seni lukis kontemporer
bangkit dengan menempatkan dirinya sebagai kemungkinan medium
representasional—bukan sebagai entitas esensial dan sublim seni rupa.
Pluralitas seni rupa kontemporer
menunjukkan dirinya dengan menerima setiap kemungkinan seni, baik dari segi
pemikiran (teori), konsep, medium, material dan ruang kehadiran serta asal usul
seniman. Terbukti bahwa seni rupa kontemporer semakin menunjukkan wajah
globalnya. Tentu saja tak bisa dipungkiri tetap hadirnya kekuatan-kekuatan
penentu di balik praktek produksi dan konsumsi seni rupa kontemporer. Sebagai
contoh, tak bisa disangkal bahwa kebangkitan seni lukis tidak lepas dari
maraknya pasar seni rupa, dan itu ditandai oleh maraknya art-fair di
pusat-pusat ekonomi dunia, termasuk pusat-pusat ekonomi baru.
Yang menarik, bangkitnya gambar atau
lebih tepat seni gambar dalam dekade terahir ini ditengarai tidak lepas dari
come-backnya seni lukis. Seni lukis melihat peluang bahwa seni rupa kontemporer
dengan kepercayaan pada pluralisme dan “apapun boleh” (anything goes)
tidak memiliki alasan untuk menolak eksistensi seni lukis. Agaknya, melihat hal
itu, para seniman yang tertarik dengan gambar sebagai kemungkinan medium seni
rupa kontemporer mulai menampilkan dirinya. Karena itu Emma Dexter, editor
Vitamin D (buku kompilasi seniman gambar yang paling komprehensif saat ini)
berpendapat bahwa popularitas seni gambar sedikit banyak disebabkan oleh kembali
populernya seni lukis: “In painting’s slipstream followed the shy sibling,
gambar, arriving without any apologies or explanation. Gambar had never been
widely theorized in its own right, allowing the field to be open for the
artists to make of it what they choice.”
Selain itu, popularitas seni gambar
ditengarai dodorong oleh arus balik pada hal-hal yang lebih moderat dan
sederhana, setelah praktek seni rupa tahun 70an sampai 90-an disibukkan oleh
aspek monumental seni. Hal itu diutarakan oleh Emma Dexter: “But when
drawing first started to emerge autonomously in the mid-1990s, it was also the
perfect medium to contrast with the sort of art that preceded it. Circa 1990,
contemporary exhibition were dominated by a form of monumentalism, one that
ironically trumpeted its decosntruction of the monument yet aped the monument’s
hunger for the space, power and theatricality.”
Seni Gambar Kontemporer Indonesia
Dalam konteks seni rupa modern
Indonesia gambar atau istilah gambar menduduki posisi penting. Sebelum istilah
seni atau seni lukis dipergunakan dan populer, maka “gambar” merupakan istilah
yang kerap dipergunakan untuk menunjuk beragam seni rupa 2 dimensi. Tentu kita
masih ingat keberadaan Persagi, singkatan dari persatuan ahli-ahli gambar
Indonesia, kendati yang terutama dipraktekkan adalah seni lukis. Istilah gambar
dapat merujuk pada seni lukis karena seni lukis selalu menggambarkan seseorang
atau sesuatu, lukisan adalah gambar atau gambaran tentang sesuatu. Hal itu juga
menunjukkan bahwa istilah gambar, khususnya dalam konteks budaya Indonesia masa
lalu memiliki pengertian yang lebih luas dari pengertian drawing. Sanento
Yuliman almarhum dengan cakap menjelaskan hal tersebut: “Yang pertama-tama
perlu diingat dalam membicarakan gambar ialah bahwa kata “gambar” mempunyai
lingkup pengertian yang luas. Yang tampak di layar televisi ketika pesawat
dihidupkan, yang kelihatan di layar bioskop ketika film main, demikian juga
foto di harian dan majalah, lukisan, peta, denah, grafik, dan sebagainya, itu
semua dalam bahasa Indonesia disebut “gambar”.
Saat ini pengertian istilah gambar
tampaknya menyempit, khususnya dalam medan seni rupa kontemporer Indonesia,
mendekati pada pengertian drawing dalam bahasa Inggris. Namun demikian apa yang
diutarakan Sanento Yuliman menunjukkan bahwa potensi seni rupa—apapun
mediumnya—sebagai wilayah penggambaran (representasi) sesuatu hal atau
persoalan merupakan hal yang mudah diterima sejak lama. Karena itu, tak
mengherankan jika gambar sebagai wilayah atau kategori seni yang otonom mudah
diterima oleh masyarakat. Hal itu ditunjukkan oleh penerimaan yang cukup
terbuka pada karya-karya seni gambar. Terbukti, saat ini beberapa seniman muda
menjadi populer semata-mata menggunakan teknik/medium gambar dalam berkarya.
Pameran ini menandai apa yang
dijelaskan oleh Laura Hoptman, “it also mark a moment when drawing has
become a primary mode of expression for the most inventive and influential,
artist of the time.” Terbukti, wajah seni rupa kontemporer Indonesia
ditandai oleh karya-karya yang dikerjakan dengan teknik gambar dan masuk dalam
kategori gambar, atau dalam hal ini lebih tepat disebut seni gambar. Barangkali
istilah seni gambar terlalu berlebihan, sebab dalam bahasa Inggris cukup
disebut drawing, bukan drawing-art. Namun, penyebutan seni gambar
memang sebuah penekanan, seperti juga istilah seni lukis dan seni patung yang
merupakan padanan istilah painting dan sculpture. Dengan
demikian, jelas bahwa pameran ini berkenaan dengan gambar sebagai karya seni,
khususnya dalam konteks seni rupa kontemporer.
Namun demikian, saat ini, tak mudah
menetapkan secara tegas batasan seni gambar. Dalam beberapa hal seni gambar
bergerak masuk dalam batasan seni lukis. Hal itu contohnya ditunjukkan oleh
beberapa seni kontemporer kelas dunia yang karyanya dianggap sebagai drawing,
namun juga diketegorikan sebagai painting. Menurut Emma Dexter karya-karya
Marlene Dumas dan Elizabeth Payton menunjukkan kualitas “antara” (drawing
dan painting): “In the case of Dumas, gambar has always featured
heavily in her exhibitions, the juxtaposition between the more final and
‘developed’ form of painting and the immediacy of gambar being an essential
element in the presentation of her work. In other cases, artists such as
Elizabeth Peyton and Katharina Wulff have blurred the distictions between
drawing and painting, transferring some of the fragility and immediacy of
drawing into their painting. Using thin paint or combining media to leave the
white ground uncovered, thus gaining an increased sense of immediacy and responsiveness
from a medium often associated with closure and ponderausness.
Penjelasan serupa ditunjukkan oleh
Deanna Petherbridge, yang merujuk karya David Salle dan Anish Kapoor: “Salle’s
triptych ‘walking the dog’ of 1982 is in oil and acrylic on cotton, although it
is andoubtedly drawn in line, and Kapoor’s gouaches and moulded paper pieces
from his Tate exhibition of 1989 are designated ‘gambar’ althought they have
nothing to do with line.”
Dengan ketiadaan spesifikasi medium,
maka cukup sulit untuk menetapkan definisi gambar yang pasti. Kita sepertinya
“mengerti” apa itu gambar, namun benarkah demikian? Karena apa yang kita sebut
gambar bisa cukup beragam dan berbeda karakternya. Di sisi lain cairnya batasan
gambar justru merupakan sebuah berkah, karena akan melebarkan
kemungkinan-kemungkinan seni gambar, pun tak masalah jika tumpang tindih dengan
wilayah atau medium lain. Bukankah atmosfir seni rupa kontemporer ditandai oleh
ketidaksukaan pada batasan yang pasti dan definitif?
Sebelumnya disebut bahwa di masa
lalu gambar belum sampai pada kondisi otonom. Namun jika sekarang gambar
menjadi medium yang “otonom” tentunya tidak dalam sense beranalogi dengan
otonomi seni yang kaku. Karena seni sebagai wilayah otonom dianggap sebagai
konstruksi yang diangan-angankan oleh seni rupa modern—yang terbukti tidak
tercapai. Yang dimaksud gambar sebagai seni yang otonom adalah keberadaan
gambar sebagai tujuan akhir ekpresi seni—bukan sebagai preparatori atau sketsa.
Karena itu karakter bahwa seni gambar menjadi medium akhir (selesai sebagai
karya seni) tidak diikuti oleh ketentuan formulatif atau absolut mengenai
“kebenaran” seni gambar. Seni gambar mengikuti kaidah seni rupa kontemporer
yang pluralis: segala macam kemungkinan seni gambar berhak hidup. Karena itu,
menurut para pengamat, seni gambar mengalami kemajuan yang sangat pesat,
sehingga batas-batasnya pun meluas, yang dalam istilah Emma Dexter disebut drawing
within an expanded field —mengingatkan kita pada istilah sculpture in
the expanded field.
Harus diakui Pameran Seni Gambar
Kontemporer bukanlah upaya menyuruk untuk memeriksa sejauh mana seniman
menterjemahkan atau mencari kemungkinan seni gambar. Arah yang diambil dalam
pameran ini lebih sederhana, yaitu menunjukkan bahwa gambar dapat menjadi media
yang otonom untuk ekpresi kesenian—dalam konteks seni rupa kontemporer. Karena
itu, sekali lagi, penyebutan seni gambar merupakan penekanan bahwa medium atau
teknik gambar merupakan pilihan utama sang seniman dalam menghasilkan karya
seni. Dengan kata lain pameran ini menekankan bahwa karya-karya yang
ditampilkan adalah karya-karya dengan tujuan akhir adalah “karya seni” yang
“selesai”, bukan semata-mata eskperimentasi gambar. Dalam upaya meletakkan
gambar—yang selama ini dipandang sebagai proses preparatori untuk seni lukis
dan patung, atau visualisasi awal gagasan—sebagai sebuah karya “seni gambar”
yang mandiri maka meletakkannya sebagai kemungkinan representasi agaknya
menjadi pilihan utama dalam pameran ini.
Maka, dalam pameran ini, konten
representasi menjadi alibi bahwa karya yang ditampilkan adalah karya seni.
Dengan kata lain pameran ini menegaskan bahwa dengan teknik gambar pun konten,
subyek matter atau permasalahan yang hendak disuarakan dapat tampil dengan
maksimal. Karena itu, bukan tanpa alasan bahwa para seniman diminta untuk
menyuguhkan kemungkinan teknik gambar di atas kanvas. Hal ini tentu saja sama
sekali tidak menciderai pengertian gambar, sebab istilah drawing on paper,
menunjukkan bahwa hal tersebut merupakan salah satu kemungkinan seperti juga
kemungkinan drawing on canvas. Lagi pula hal tersebut pun telah ditunjukkan
oleh banyak seniman yang memanfaatkan teknik gambar di atas kanvas dalam
karya-karyanya. Bagaimanapun kanvas memiliki aura yang lebih dibandingkan
kertas. Tentu saja hal ini tidak meniscayakan bahwa gambar di atas kertas lebih
rendah. Pada akhirnya adalah persoalan pilihan, beberapa seniman memilih tetap
menampikan karya seni gambar menggunakan kertas.
Namun demikian, terlepas dari
konteks konten dan representasinya, perkara keragaman, eksplorasi dan konsep
tentang gembar juga menjadi bagian penting yang menyertai pameran ini.
Keragaman dan berbagai pendekatan gambar ditunjukkan dalam pameran ini, baik
dari pengertian yang paling konvensional, sampai seni gambar yang cukup
eksperimental. Demikian pula muncul karya-karya gambar yang sulit dibedakan
dengan seni lukis. Hal itu harus diterima sebagai refleksi beragamnya
pengertian dan kemungkinan seni gambar.
Selain itu, cukup menarik bahwa
popularitas seni gambar muncul saat seni media baru menjadi bagian penting
dalam seni rupa kontemporer. Agaknya ada relasi mutualistis, komplemen dan
saling melengkapi. Perkembangan teknologi digital agaknya menyebabkan servis
gambar terhadap proses melukis, khususnya seni lukis realis—yang kembali
populer belakangan ini.—menjadi sangat berkurang. Saat ini proses penyapan dan
pengerjaan seni lukis dan patung lebih mudah dibantu dengan perangkat digital,
seperti kamera digital, software komputer dan proyektor LCD. Hal ini semakin
membebaskan tugas gambar sebagai alat atau media bantu bagi seni lukis.
Barangkali karena itu, belakangan banyak seniman memanfaatkan gambar sebagai
wilayah otonom, sebagai terminal akhir praktek seninya. Yang menarik, bahkan
seniman gambar pun saat ini memanfaatkan bantuan foto dan proyektor LCD dalam
prose’s penyiapan dan pengerjaan seni gambarnya.
Tentu disadari bahwa pameran ini
tidak akan dapat memberikan gambaran yang komprehensif dan inlukisf mengenai
kenyataan sesungguhnya seni gambar dalam medan seni rupa Indonesia. Namun
demikian, sebisa mungkin diupayakan keragaman seni gambar dapat diperlihatkan.
Hal itu ditunjukkan mulai dari seni gambar yang menunjukkan kepiawaian
membentuk dengan tarikan garis yang ekspresif dan artistik sampai karya-karya
yang serupa dengan gambar komik.
Seperti telah disebutkan di awal
bahwa gambar selalu menyertai peradaban dan kebudayaan manusia. Segala jenis
citraan dalam kebudayaan tradisi umumnya merupakan gambar, baik berupa
sungging, rajahan, maupun ukiran di berbagai material. Karena itu dirasa penting
untuk menampilkan seni gambar dari ranah tradisi, dan sepertinya Bali merupakan
wilayah yang paling tepat untuk dipilih. Bagaimanapun di Bali gambar sebagai
sebentuk seni tradisi dapat bertahan dan tembus ke era modern. Hal itu
ditunjukkan bagaimana para seniman Bali legendaris macam Lempad dan banyak
lainnya dapat mengindividuasi pakem gambar tradisi menjadi suatu karya yang
personal namun tetap dapat menunjukkan identitas dan karakter ke Balian. ***
(Catatan ini rencananya menjadi
pengantar dalam katalog Pameran Seni Gambar Kontemporer yang pamerannya telah
diselenggarakan tahun 2009 di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta)
*) Penulis adalah Kurator dan staf pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain, ITB.
*) Penulis adalah Kurator dan staf pengajar Fakultas Seni Rupa dan Disain, ITB.
Wednesday, April 4, 2012
"The Last Eggs 2"
"The last Eggs 2", adalah ungkapan keprihatinan saya terhadap gejala atau fenomena yang terjadi belakangan ini.
Ini bisa disebut sebagai ekspresi dari kecemasan saya sebagai seorang seniman.
Segala teori, maupun hasil penelitian tentang Ekologi lingkungan, serta pentingnya
menjaga keharmonisan kehidupan semua makhluk di Bumi, bak desisan bunyi bayi Cicak diantara gemuruh Pasar Malam.
Entah untuk alasan apa Manusia menjadi begitu beringas membangun dan mengeksploitasi Bumi ini. Mereka bertindak seolah menjadi manusia terakhir yang menghuni Bumi ini.
Mereka berperilaku seolah pemilik Alam Semesta. Binatang, Tumbuhan, hanyalah pengganggu, penghambat, yang tidak memiliki hak untuk bersuara.
Dan burungpun pada akhirnya akan bertelur ditempat yang tidak selayaknya.
Dan itu Telur yang terakhir, yang belum tentu akan menetas.
Akhirnya Sosok Burung hanya akan menjadi sebuah "Dongeng" yang hanya
bisa dilihat di layar ipad.
Salam.
hadisis.
http://www.freewebz.com/bulzacki
http://www.freewebz.com/bulzacki
Tuesday, April 3, 2012
philippe starck: V+ volteis electric car
'V volteis' , adalah sebuah konsep mobil listrik yang
dikembangkan oleh desainer Perancis Philippe Starck
bekerjasama dengan Volteis, produsen
kendaraan listrik Perancis.
Dalam debutnya di “Motor Show 2012”
Geneva,
mobil ini banyak menarik perhatian Pengunjung.
Mobil dengan bobot 1600 pon ini hampir
semuanya
berbahan dasar aluminium.
Starck merancang “V volteis” ini sehubungan dengan
ketidak-puasannya terhadap kondisi kendaraan
konvensional yang ada; “ mereka
berisik, kotor, anti-social,
masokis, dan itu mewakili
sifat-sifat buruk manusia..”
begitu katanya.
Mobil ini bermesin 4kW, dengan baterai 4,5 kWh,
dan bisa melaju hingga kecepatan Maksimum
40 mph.
Baterai mencapai kapasitas 50% dalam 2 jam
dari sumber listrik V standar 220,
serta memerlukan 6 jam untuk
pengisian penuh.
Mobil “Vvolteis” ini rencananya akan
diproduksi
Secara terbatas, dan pertamakali
hanya akan dijual
Di 15 Toko di seluruh Perancis. Baru
kemudian
Secara bertahap akan di ekspor
keseluruh Dunia.
Mobil ini diperkirakan akan dijual 40.000 USD/unit.
Starck membayangkan, mobil ini
nantinya
Akan banyak dipakai di Industri Perhotelan,
Resort, atau Restaurant..
Kita tunggu saja, barangkali tak lama
lagi
akan terlihat mondar-mandir di
Bukit Dago Golf…
Subscribe to:
Posts (Atom)





